Secuil Kisah tentang Duniaku

#post4 gambar 1

Gambar 1. Processing Plant PT NNT

 

Sebagai mahasiswi Teknik Material dan Metalurgi, jalan-jalan di processing plant PT Newmont Nusa Tenggara merupakan satu hal yang menarik. Hal ini menjadi menarik karena PT NNT sangat terbuka dalam menjawab rasa keingintahuan saya.

PT NNT melakukan penambangan dan pengolahan batuan hingga menjadi konsentrat. Konsentrat merupakan bahan mentah dan tidak dapat diaplikasikan secara langsung, perlu pengolahan lebih lanjut agar konsentrat dapat menjadi produk yang dapat memenuhi kebutuhan manusia. Singkatnya, terdapat tiga tahap pengolahan batuan menjadi konsentrat yaitu crushing and grinding, flotation, dan dewatering and filtration.

Crushing and grinding merupakan proses penghancuran batuan menjadi berukuran sangat kecil agar dapat diolah pada proses berikutnya. Batuan mineral yang merupakan hasil tambang dihancurkan dengan crusher di area pertambangan. Crusher (Gambar 3) menumbuk batuan hingga menjadi ukuran yang lebih kecil yaitu sekitar 175 mm. Setelah itu, hasil tumbukan dibawa dengan menggunakan conveyor (Gambar 4) melintasi pulau sejauh 6 km dari area pertambangan menuju tempat pengolahan.

#post4 gambar 2
Gambar 2. Crushing (Sumber: PT NNT)
#post4 gambar 3
Gambar 3. Svadala Gyratory Crusher (Sumber: PT NNT)

 

#post4 gambar 4
Gambar 4. Overland Conveyor (Sumber: PT NNT)

Batuan memiliki grade atau kandungan tembaga yang berbeda-beda. Batuan yang dikategorikan low grade (mengandung 0.35% tembaga) dan medium grade (mengandung 0.35-0.45% tembaga) masuk ke dalam penampungan bernama stockpile. Sedangkan, batuan high grade (lebih dari 0.45% tembaga) langsung masuk ke dalam proses pengolahan menjadi konsentrat. Batuan low grade dan medium grade diolah ketika suplai batuan high grade tidak mencukupi.

Guna mendapatkan ukuran batuan yang lebih kecil lagi (sekitar 250 mikrometer), batuan yang kira-kira berukuran 175 mm dicampur dengan air laut atau air asam tambang terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam SAG Mill (Gambar 5), sebuah mesin grinding atau penghalus batuan yang berbentuk silinder dan berputar dengan kecepatan tertentu. Sedikit informasi, air laut digunakan pada proses karena PT NNT berada dekat dengan laut, sehingga lebih ekonomis, sedangkan air asam tambang atau air bekas tambang digunakan karena masih mengandung mineral berharga seperti tembaga. Kembali kepada proses penghalusan batuan. Proses grinding terjadi karena SAG Mill berputar dan menyebabkan bola-bola baja di dalamnya ikut berputar, sehingga menumbuk dan menggerus batuan yang masuk ke dalam SAG Mill. Setelah itu, batuan akan kembali dihaluskan dengan Ball Mill. Ball Mill memiliki cara kerja seperti SAG Mill, akan tetapi ukuran tabung Ball Mill lebih kecil dibandingkan dengan SAG Mill.

#post4 gambar 5
Gambar 5. SAG Mill

Batuan yang sudah melalui proses penggerusan akan dipilah berdasarkan ukuran dengan menggunakan cyclone (Gambar 6). Pemilahan ini berdasarkan pada prinsip gaya sentrifugal (gaya gerakan melingkar yang berputar menjauhi pusat) dan massa dari batuan. Cyclone yang berputar menyebabkan batuan berukuran besar akan cenderung terlempar ke arah luar kemudian ke bawah, sedangkan batuan yang masih berukuran kecil akan dihisap ke atas. Batuan yang masih berukuran besar akan kembali masuk ke dalam proses grinding dengan menggunakan Ball Mill.

#post4 gambar 6
Gambar 6. Cyclone

Di dalam batuan terdapat beragam mineral. Ada yang berharga (dalam proses ini merupakan tembaga dan emas) dan ada mineral-mineral yang tidak berharga. Untuk meningkatkan nilai ekonomisnya, maka mineral yang berharga perlu dipisahkan dari mineral yang tidak berharga. Pada pengolahan bijih tembaga, pemisahan dilakukan dengan proses fisika yaitu flotasi/pengapungan. Mineral dengan permukaan hidrofobik (menolak air) akan terpisah dari mineral yang permukaannya bersifat hidrofilik (menerima air). Pada proses flotasi, bijih yang sudah halus dicampur dengan air dan reagen, kemudian masuk ke dalam sel berbentuk tangki dan secara bersamaan dipompa udara ke dalam campuran tersebut sembari diaduk. Reagen yang ditambahkan berupa primary collector (DSP 314) dan secondary collector (PAX) sebagai penstabil gelembung udara, kapur untuk menaikkan pH, serta NaHS untuk mengubah tembaga oksida menjadi tembaga sulfida.

Penambahan reagen tersebut akan menyebabkan mineral berharga melekat pada gelembung dan meninggalkan mineral tidak berharga pada dasar tangki, yang kemudian akan menjadi tailing. Proses pemisahan ini berlangsung bertahap sebanyak 10x hingga dicapai kandungan tembaga sekitar 16%.

#post4 gambar 7
Gambar 7. Tangki Flotasi

 

#post4 gambar 8
Gambar 8. Pelekatan Mineral Berharga pada Gelembung
#post4 gambar 9
Gambar 9. Mekanisme Flotasi (Sumber: PT NNT)

Proses masih berlanjut di dalam column. Mekanisme yang terjadi pada column serupa dengan mekanisme pada tangki-tangki flotasi. Bedanya, pada column terdapat air yang membilas pengotor yang masih melekat pada gelembung, sehingga dari proses ini akan didapatkan kandungan tembaga sebesar 25-30% atau yang kerap disebut sebagai konsentrat.

#post4 gambar 10
Gambar 10. Column
IMG_0227
Gambar 11. Bagian Puncak dari Column
#post4 gambar 12
Gambar 12. Gelembung yang Mengandung Konsentrat Tembaga

Selama proses, air yang digunakan merupakan air laut. Untuk itu, perlu dilakukan pembilasan menggunakan air tawar dengan cara menembakkan air tawar ke slurry (seperti lumpur, campuran dari konsentrat dan air laut) pada proses yang dikenal dengan sebutan CCD (Counter Current Decantation).

Konsentrat yang masih berbentuk slurry (terdiri dari 30% air) sulit untuk dipindahkan dari satu tempat ke tempat yang lain, sehingga perlu dilakukan pengurangan kadar air melalui proses Filter Presses System. Slurry masuk ke dalam membran filter yang diberikan tekanan, sehingga kadar air dapat berkurang hingga 9% (Gambar 13). Selanjutnya, dengan menggunakan conveyor (Gambar 12), konsentrat dibawa ke dalam gudang penyimpanan yang kemudian akan dikirimkan ke Gresik, Filipina, Jerman, Korea, Jepang, dan India dengan menggunakan kapal untuk diolah menjadi tembaga dengan kemurnian yang lebih tinggi.

#post4 gambar 13
Gambar 13. Conveyor Menuju Gudang Penyimpanan (Concentrate Barn)
#post4 gambar 14
Gambar 14. Konsentrat dengan Kadar 9% Air

Dalam praktiknya, seringkali ditemukan hambatan-hambatan dalam proses pengolahan batuan, seperti suplai batuan yang tidak konstan, batuan dengan kekerasan berbeda-beda, kandungan tembaga pada batuan yang variatif sehingga memengaruhi recovery dari konsentrat yang dihasilkan, serta kandungan mineral tidak berharga (besi) yang cukup tinggi sehingga mempersulit proses pemisahan tembaga. Sudah menjadi tanggung jawab seorang metallurgist untuk dapat mengoptimalkan proses pengolahan dari batuan hingga menjadi konsentrat. Selain itu, seorang metallurgist harus mampu memutar otak dan mengatasi masalah-masalah pada processing plant selama proses berlangsung untuk hasil yang maksimal.

 

Advertisements

Beralih untuk Berdiri dengan Kaki Sendiri

“Kalau Newmont tidak beroperasi lagi, ya saya akan balik ke kampung (Jombang)”. -n.n.

Andai banyak kepala yang memiliki pemikiran seperti itu, lantas bagaimana nasib Sumbawa ketika PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) selesai beroperasi pada tahun 2038? Apakah masyarakat akan menjadi lebih baik? Atau sebaliknya, menjadi lebih buruk dari saat ini?

Hingga tahun 2012, PT NNT telah mengeluarkan Rp 50 miliar/tahun untuk program-program tanggung jawab sosial yang mencakup pembangunan infrastruktur dan peningkatan kemampuan masyarakat. Sebagian disalurkan langsung kepada masyarakat dan sebagian melalui Yayasan Pembangunan Ekonomi Sumbawa Barat (YPESB) dan Yayasan Olat Parigi (YOP). Masih ada tambahan dana bantuan sebesar 47 juta dolar AS yang dikucurkan kepada pemerintah daerah untuk mempercepat program pembangunan infrastruktur daerah.

Entah disadari atau tidak, masyarakat sekitar mulai ‘kecanduan’ dengan pemberian dari PT NNT yang berujung pada ketergantungan. Sudah saatnya masyarakat beralih untuk berdiri dengan kaki sendiri. Bantuan dari PT NNT yang selama ini disalahartikan dan terkesan memanjakan sesungguhnya dapat dimanfaatkan untuk meraih kemandirian.

COMDEV

0525.jpg
Community Development sebagai tempat percontohan tanaman

Sesuai dengan namanya, Community Development atau ComDev ditujukan untuk mengembangkan masyarakat khususnya di area lingkar tambang (Sekongkang, Maluk, dsb) terutama dalam sektor agraria sejak 2007. PT NNT bersama dengan LP3SB (Lembaga Pengembangan Pertanian dan Pesisir Sumbawa Barat) memberikan pelatihan dan pendampingan kepada petani palawija guna mengoptimalkan hasil panen, memproduksi bibit, membangun tempat percontohan tanaman, serta pembuatan pupuk kompos dan biogas. Bibit jati, mahoni, sengon, nangka, nimba dan bibit lainnya yang sesuai dengan keinginan masyarakat diproduksi di sini. Bibit dibagikan secara gratis, tanpa kontrak apa pun selepas itu, kepada masyarakat yang sudah siap untuk menanam. Petani di sekitar lingkar tambang diberikan pelatihan untuk menanam palawija dengan sistem rice intensification yang mana membuat proses lebih ekonomis, bahan baku lebih sedikit, proses lebih aman, energi yang lebih efisien, waktu produksi lebih singkat, sisa produk lebih sedikit, dan produktivitas yang lebih besar.

0519.jpg
Pemanfaatan solar panel di Community Development

ComDev memanfaatkan matahari dan kotoran ternak sebagai energi terbarukan. Dengan menggunakan solar panel, energi dari matahari dikonversi menjadi listrik untuk memompa air dari sumur. Sedangkan dengan reaktor biogas, kotoran ternak dapat diolah menjadi energi. Reaktor biogas di ComDev menggunakan kotoran ternak yang dicampur dengan air dengan rasio 1:1. Di dalam reaktor akan terjadi serangkaian proses fermentasi atau pembusukan yang akan menghasilkan biogas 5-6 kilogram setiap hari dengan hasil samping berupa pupuk kompos. Namun sungguh disayangkan, reaktor biogas di ComDev tidak dapat digunakan dengan maksimal dalam memproduksi pupuk kompos dan biogas. Kekurangan air dan pakan pada musim kemarau menyebabkan pengelola kesulitan memelihara ternak, sehingga saat ini sudah tidak ada satu pun ternak yang dipelihara di sini.

0523
Reaktor biogas

PENDIDIKAN

“Hal terpenting adalah memberikan pendidikan berkualitas kepada setiap orang Indonesia, baik kaya dan miskin, kota dan desa, agama apapun, suku apapun, semua wilayah provinsi tanpa terkecuali. Prinsip yang harus dipegang adalah bahwa SDA bukanlah kekayaan utama Indonesia. Kekayaan bangsa Indonesia adalah “manusia” Indonesia. Jika kita manusia Indonesia terdidik, tercerdaskan dan tercerahkan maka kita akan sejahtera, dan mendominasi dunia.” -Anies Baswedan.

sekolah
Generasi muda daerah lingkar tambang (foto: PT NNT)

Guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia khususnya kalangan siswa dan mahasiswa di Nusa Tenggara Barat, PT NNT memberikan bantuan pendidikan. Sekitar 9.654 beasiswa telah diberikan kepada siswa dan mahasiswa sebagai bentuk kepedulian PT NNT terhadap pendidikan di NTB. Tidak hanya itu, PT NNT juga membantu memperbaiki fasilitas sekolah-sekolah di daerah lingkar tambang dan melakukan kerja sama dengan lembaga bimbingan belajar.

Nasib Sumbawa di masa mendatang bergantung pada generasi muda saat ini. Investasi dalam dunia pendidikan sebagai ‘perangkat rekayasa masa depan’ dapat menjadi salah satu cara membawa Sumbawa ke arah yang lebih baik. Ketakutan, kegentaran, kebingungan akan masa depan Sumbawa dapat teratasi bila generasi muda sungguh memanfaatkan kesempatan yang ada untuk memperkaya ilmu dan tidak lupa kembali untuk membangun Sumbawa.

 

Pada akhirnya, meraih kemandirian Sumbawa hanya menjadi angan apabila masyarakat yang ada di dalamnya hanya bermimpi dan berharap tetapi tidak bertindak. Beragam bentuk bantuan dari PT NNT dalam rangka pengembangan masyarakat akan sia-sia apabila tidak ada usaha lebih dari masyarakat untuk mengembangkan diri dan menjadikan Sumbawa lebih baik.

Terlihat Negatif Belum Tentu Buruk, Jika…

“Show, don’t tell”, ungkap Pak Khun, salah satu peserta Sustainable Mining Boot Camp V, masih terngiang-ngiang di pikiran saya. Kalimat sederhana tapi benar adanya. Sulit mempercayai dan menghayati sesuatu bila hanya mendengar apa yang orang lain katakan. Pengalaman selama 9 hari menjadi peserta #NewmontBootCamp telah membuka mata dan pikiran saya terhadap persepsi negatif dunia pertambangan yang selama ini hanya saya pendam.

Ternyata, bukan hanya saya yang bertanya-tanya mengenai misteri dunia pertambangan. Beberapa hari lalu, saya sempat mengunggah foto dan penjelasan singkat di Instagram (@amelthiarahel) menyinggung kondisi lingkungan di area tambang dan sekitarnya. Teman-teman seperjuangan di kampus membanjiri saya dengan pertanyaan-pertanyaan atas ketidakpercayaan mereka.

Memang, sesuatu yang sulit dipercaya. Sebuah perusahaan tambang rela menghabiskan dana yang tidak sedikit untuk mengelola lingkungan. Bukan karena kewajiban semata, melainkan aspek lingkungan sudah menjadi komitmen bagi PT NNT. Dalam operasionalnya, PT NNT telah membangun citra perusahaan tambang yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. Hal ini terlihat dari keberhasilan PT NNT mendapatkan predikat HIJAU sebanyak 6x dan BIRU sebanyak 5x dalam evaluasi PROPER KLH sejak tahun 2002 hingga 2015.

 

LIMBAH PROSES PENGOLAHAN

newmont 1 a
Tailing ditempatkan di laut (Foto: PT NNT)

Perdebatan sengit dapat muncul kala membahas limbah proses pengolahan. Orang awam seringkali beranggapan bahwa semua limbah hasil proses pengolahan batuan terutama tambang pasti berbahaya bagi lingkungan, termasuk saya sebelum mengikuti Sustainable Mining Boot Camp.

Limbah proses pengolahan atau yang kerap disebut sebagai ‘tailing’ merupakan hasil samping dari serangkaian proses pengolahan batuan setelah mineral-mineral berharga (tembaga, emas dan perak) dipisahkan. Di PT NNT, batuan diproses dengan menggunakan metode fisika dan hanya sedikit melibatkan bahan kimia. Dari awal proses hingga akhir proses, bahan kimia yang digunakan adalah kapur dan reagen organik yang bersahabat dengan lingkungan. Jadi, komposisi tailing adalah batuan (tanpa mineral berharga), kapur, dan sedikit reagen organik.

Tailing berbentuk lumpur (batuan yang sudah dihancurkan dan air) dialirkan ke laut dengan menggunakan pipa dari tempat pengolahan batuan yang dikenal dengan Deep Sea Tailing Placement (DSTP). Pipa sepanjang 3.2 kilometer dari tepi pantai dan dengan kedalaman 125 meter di bawah permukaan laut membawa tailing ke tepi Palung Senunu. Dikarenakan densitas dari lumpur lebih besar, maka secara gravitasi lumpur cenderung mengalir ke dalam palung.

Penempatan tailing pada dasar laut diperiksa secara berkala dan hasilnya dilaporkan ke pemerintah. Pada tahun 2004 dan 2009, CSIRO (The Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation) bersamaan dengan peneliti dari Indonesia melakukan studi terkait kualitas air, sedimen, dan ikan di sekitar penempatan tailing. Tim dari P2O-LIPI (Pusat Penelitian Oseanografi-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) juga melakukaan pemetaan jejak tailing dan dampak dari penempatan tailing terhadap ekosistem laut. Hasil menunjukkan bahwa terdapat zona yang mengalami dampak dari penempatan tailing tersebut, akan tetapi masih dianggap aman karena berada dalam standar yang diizinkan oleh pemerintah.

 

AIR ASAM TAMBANG

newmont 1 b.png
Air asam tambang ditampung di Santong II

Kerusakan lain yang timbul dari kegiatan penambangan adalah penurunan pH air akibat adanya interaksi antara atmosfer, air, dan batuan sehingga menyebabkan air asam tambang. Air asam tambang di PT NNT tidak dibiarkan bercampur dengan air bersih. Air bersih yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah air yang sudah memenuhi baku mutu sesuai dengan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 202 tahun 2004 bagi kegiatan pertambangan bijih emas atau tembaga.

Air bersih dari hutan atau pun dari daerah reklamasi langsung dialirkan ke sungai. Pemantauan terhadap air sungai secara efektif kerap dilakukan secara berkala pada beberapa titik di sungai guna memperkecil potensi lingkungan tercemar. Sedangkan, air asam tambang dialirkan menggunakan pipa ke DAM untuk diolah dan dialirkan kembali ke Santong I,II,III untuk ditampung sebelum masuk ke dalam processing plant. Air asam tambang mengandung mineral-mineral berharga seperti tembaga dialirkan ke processing plant dan digunakan untuk mengolah batuan. Kandungan tembaga yang sesuai dengan ketentuan langsung masuk ke dalam proses untuk diolah menjadi konsentrat, sedangkan kandungan tembaga yang terlalu tinggi pada air asam akan melalui treatment terlebih dahulu.

newmont 1 e
Pemantauan baku mutu air sungai

KERUSAKAN PADA FUNGSI LAHAN

newmont 1 c
Tahap reklamasi pada daerah bekas tambang (Foto: PT NNT)

Kerusakan pada fungsi lahan merupakan konsekuensi dari aktivitas peledakan dan pengerukan batuan. Dengan reklamasi yang benar, lahan bekas tambang dapat kembali pada fungsi asalnya.

Saat membuka lahan tambang, tanah teratas dikeruk dan dikumpulkan pada tempat penampungan sementara. Setelah aktivitas tambang selesai, maka lahan yang rusak akan diratakan dengan menggunakan batuan dan dibentuk ulang hingga kemiringan 26o. Tanah yang disimpan digunakan untuk melapisi batuan setebal 0.5 meter. Guna mengurangi air asam tambang dan menjaga stabilitas tanah, tanah dipadatkan dengan menggunakan truk penggilas. Coco net atau jaring yang terbuat dari kelapa diletakkan di atas tanah yang sudah dipadatkan, tujuannya adalah mengendalikan erosi yang seringkali terjadi akibat lahan yang landai.

Setelah lahan siap, hydroseeding pun dilakukan. Biji, perekat, pupuk, dan bahan penutup tanah untuk mencegah penguapan, disebar bersamaan dengan menggunakan air. Setelah dua bulan, rumput mulai tumbuh, seperti pada gambar di bawah. Tidak hanya rumput yang ditanam, pohon-pohon berkambium yang sudah dibibitkan sebelumnya ditanam satu per satu dengan harapan daerah reklamasi dapat kembali ke fungsi asal.

newmont 1 d
Hasil reklamasi sejak Desember 2015

Semua yang terlihat negatif, belum tentu buruk. Tidak dipungkiri, kegiatan penambangan merusak lahan, menghasilkan air asam tambang, limbah sisa pengolahaan, dan efek samping lainnya yang tidak ramah lingkungan. Akan tetapi, dengan penanganan dan perencanaan yang matang sebelum melakukan aktivitas tambang diikuti dengan kegiatan pascatambang yang benar serta bertanggung jawab, potensi kerusakan lingkungan dapat diminimalisir. Tanggung jawab lingkungan tidak menjadi persoalan kalangan industri saja, dalam konteks ini perusahaan tambang. Energi pemerintah dan masyarakat dalam menjaga lingkungan tetap dibutuhkan, lantaran lingkungan milik kita bersama.

 

 

Lahan Tambang Kembali Hijau, Mungkinkah?

Reklamasi Lahan Tambang (sumber: http://www.ptnnt.co.id)

Heaven on earth merupakan sebuah sebutan yang pantas diberikan kepada Indonesia karena kekayaan alam yang luar biasa. Berdasarkan Survei Geologi Amerika Serikat, Indonesia menduduki peringkat enam di dunia terkait kepemilikan bahan-bahan tambang. Dengan profil yang demikian, banyak pelaku industri pertambangan menjajal peruntungan di Indonesia.

Bicara soal tambang tidak lepas kaitannya dengan lingkungan. Kerusakan lahan, pencemaran lingkungan oleh limbah dan air asam merupakan dampak dari pembukaan lahan tambang. Padahal, lingkungan merupakan satu dari tiga aspek prinsip pembangunan berkelanjutan pada pertambangan, selain ekonomi dan sosial.

Belajar dari PT Newmont Nusa Tenggara yang sukses meraih penghargaan ADITAMA dalam bidang pengelolaan lingkungan sejak tahun 2006, PT NNT melakukan perencanaan yang matang terkait aktivitas pascatambang dan reklamasi sebelum membuka suatu lahan tambang. Tidak hanya itu, PT NNT menyadari bahwa perlu adanya sinergi antara pemerintah, pelaku bisnis, dan masyarakat dalam menjaga lingkungan pertambangan, sehingga PT NNT berinisiatif mengedukasi dan menggandeng masyarakat untuk turut dalam program pengelolaan lingkungan. Hasilnya, sampai pada November 2014, PT NNT telah mereklamasi 770 hektar lahan.

Memang, dampak negatif terhadap lingkungan yang disebabkan oleh pertambangan tidak dapat dihindari, akan tetapi dengan pengolahan lingkungan yang benar dan bertanggung jawab, dampak negatif dapat diminimalisir dan pembangunan berkelanjutan pada pertambangan dapat tercapai.

Amelthia Rahel

Mahasiswi Teknik Material dan Metalurgi

Institut Teknologi Sepuluh Nopember

~~~~~~~~

Referensi:

EnergyToday. 2014. Newmont Reklamasi Area Tambang 770 Hektar. http://energitoday.com/2014/11/newmont-reklamasi-area-tambang-770-hektar/ diakses pada 19 Januari 2016.

Firdausi, Fafa. 2012. Bicara Tambang, Bicara Lingkungan. http://www.ptnnt.co.id/id/bootcamp/mining/bicara-tambang-bicara-lingkungan.aspx diakses pada 17 Januari 2016.

Miner’s Life. 2015. Potensi Pertambangan di Indonesia. http://mlmagz.com/read/1245/potensi-pertambangan-di-indonesia diakses pada 19 Januari 2016.

Tambunan, Charles. 2015. Pertambangan, Kelanjutan dan Pertambangan Berkelanjutan. http://www.pusdiklat-tmb.esdm.go.id/index.php/seputar-esdm/item/300-pertambangan-kelanjutan-dan-pembangunan-berkelanjutan diakses pada 15 Januari 2016.